Profile

K24 adalah nama brand yang bergerak dibidang usaha apotek.

Sabtu, 29 Mei 2010 12.59 By k24 laswi bandung

IKAFI: Obat Dapat Sebabkan Kecacatan pada Janin

Yogyakarta (ANTARA News) - Obat yang dikonsumsi ibu hamil dapat mempunyai efek samping yang menyebabkan kecacatan pada janin, sehingga perlu ketelitian dalam pemilihan dan pemberian obat, kata Ketua Pengurus Besar Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia Prof Iwan Dwiprahasto, Jumat.

"Efek samping obat yang terjadi pada ibu hamil itu karena pada trimester pertama biasanya sangat rentan terhadap obat-obatan," katanya pada seminar "Emergency in Dentistry" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut dia, hal itu perlu mendapat perhatian dari para dokter agar lebih berhati-hati dalam memberikan resep pada ibu hamil, karena dampak dari alergi dan efek samping obat dapat menimbulkan kecacatan pada bayi yang dikandung.

"Saat ini di seluruh dunia masih ada sekitar 3.000 janin lahir tanpa tangan dan kaki akibat alergi dan efek samping obat yang dikonsumsi ibu hamil," katanya.

Selain pada ibu hamil, alergi dan efek samping obat juga dapat terjadi pada orang biasa. Salah satu dampak dari efek samping obat adalah alergi khususnya pada kulit.

"Salah satu bentuk alergi dan efek samping obat adalah urticaria yang ditandai dengan bengkak yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, kemerahan, meninggi di permukaan kulit, dan gatal. Bentuk alergi itu biasa dikenal masyarakat dengan nama biduran," katanya.

Ia mengatakan, efek samping obat yang lebih serius membutuhkan rawat inap. Hal itu perlu karena dapat menyebabkan kecacatan atau mengancam jiwa pasien hingga mengakibatkan kematian.

Namun, tidak setiap obat memiliki efek samping dengan waktu reaksi yang sama. Dalam dunia kedokteran jangka waktu itu disebut onset.

Menurut dia, efek samping obat yang akut akan bereaksi dalam waktu 60 menit setelah obat diminum, subakut dapat muncul dalam jangka wakti 1-24 jam, dan laten atau lambat muncul setelah lebih dari dua hari pascaobat diminum.

"Dokter sudah seharusnya mengenali faktor-faktor risiko dari efek samping obat, dilihat dari umur. Anak dan usia lanjut selalu berisiko lebih besar dibanding usia dewasa," katanya.

Ia mengatakan, perubahan fisiologi misalnya pada usia lanjut menyebabkan fungsi ginjal menurun. Hal itu menyebabkan penumpukan obat yang tidak perlu pada ginjal.

Alergi dan efek samping obat sering terjadi dalam dunia kedokteran, sehingga dokter diminta untuk berhati-hati dalam memberikan resep dan lebih teliti dalam mengedukasi pasien.

"Namun, adanya alergi dan efek samping obat itu jangan sampai membuat dokter takut untuk memberikan resep. Selain perlu berhati-hati dalam memberikan resep, dokter juga harus terus menambah ilmu seiring dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran," katanya.(*)

12.51 By k24 laswi bandung

Peredaran Obat secara Bebas Berbuntut Konsumsi tak Rasional

image PRAKTIK pengobatan tanpa asuhan tenaga kefarmasian menyebabkan penggunaan obat tidak rasional yang bisa berakibat fatal pada pengguna obat. Fenomena itu menyusul merebaknya peredaran obat-obatan di Indonesia secara bebas, meski pemerintah sudah menerbitkan beberapa peraturan mengenai pendistribusian dan pemasarannya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Mohamad Dani Pratomo, di Jakarta, Selasa (18/5), mengatakan, aturan tersebut belum ditegakkan, sehingga distribusi obat terlalu bebas. Kondisi itu mendorong orang berusaha mengatasi masalah kesehatannya dengan pengobatan sendiri, tanpa diagnosis dan saran dokter juga petunjuk apoteker.
"Orang yang merasa hipertensi langsung membeli obat-obat hipertensi yang bisa didapat dengan mudah di toko obat dan apotek. Bagaimana jika dia ternyata tidak hipertensi, atau dosis obat yang dia konsumsi tidak sesuai kebutuhan?" ujarnya.
Bahkan, selama ini peredaran obat di dalam negeri menjadi sangat bebas karena pemerintah membutuhkan waktu lama untuk menerbitkan peraturan pemerintah.
"Mengapa sampai butuh waktu 17 tahun untuk menerbitkan peraturan pemerintah tentang kefarmasian. Dan sekarang meski sudah ada undang-undang dan peraturan pemerintahnya sudah ada, penegakannya belum berjalan baik," jelasnya.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan tenaga kefarmasian selama ini belum mendapat perhatian cukup dari pemerintah. Menurutnya, jumlah apoteker di seluruh Indonesia hanya sekitar 30 ribu orang dengan rasio apoteker banding populasi kurang lebih 1:8.000.
"Di negara maju rasionya 1:4.000 sampai 1:5.000. Itu idealnya," imbuhnya.
Keterbatasan jumlah apoteker serta kurangnya peran pemerintah dalam pendistribusian dan penempatan apoteker membuat sebagian besar fasilitas pelayanan kesehatan tidak memiliki apoteker sesuai kebutuhan. Mungkin hanya sekitar 10 persen puskesmas dengan jumlah lebih dari delapan ribu di seluruh Indonesia, yang memiliki apoteker.
Bahkan, sebagian apotek yang saat ini jumlahnya sekitar 10 ribu, juga beroperasi tanpa apoteker.
(ant/CN16)

12.44 By k24 laswi bandung

Inilah Tips Membantu Berhenti Merokok

Inilah Tips Membantu Berhenti Merokok
JAKARTA, KOMPAS.com — Selain motivasi dari diri sendiri, perokok yang mau berhenti juga membutuhkan dukungan lingkungan sekitarnya. Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa Rumah Sakit Persahabatan, dr Tribowo T Ginting, dalam kampanye bebas rokok bertema "Break Free" di Jakarta, Rabu (26/5/2010), setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan dalam mendukung perokok yang ingin berhenti.
1. Bersihkan rumah dari atribut-atribut rokok seperti bungkus rokok, asbak, dan korek. Lalu, ajaklah rekan-rekan sesama perokok untuk tidak merokok di depan perokok yang ingin berhenti.
2. Bersabarlah, khususnya dalam 1-2 minggu pertama. "Kemungkinan akan timbul perselisihan dengan perokok yang sedang berusaha berhenti," kata dr Bowo.
3. Berikan banyak pujian dan penghargaan kepada yang hendak berhenti merokok. "Hargai keputusan mereka yang ingin berhenti, rayakan kalau dalam 1-2 minggu mereka berhasil," tambah dr Bowo.
4. Sediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati dan perasaan perokok yang berusaha berhenti.
5. Alihkan perhatian perokok dengan menyibukkan mereka seperti mengajak jalan-jalan atau melakukan aktivitas fisik seperti olahraga pada waktu-waktu biasanya dia merokok. "Permen dapat mengalihkan perhatian perokok saat dia enggak tau mau apa, dia makan permen," tambah dokter spesialis jantung, dr Aulia Sani.
6. Yang terpenting, yakinkanlah perokok bahwa mereka mampu berhenti atau mengurangi kebiasaan mengonsumsi nikotin.

Berbisnis dengan Hati

Jumat, 14 Mei 2010 23.55 By k24 laswi bandung


GIDEON HARTONO




Minggu, 25 Juni 2006
Sejak kecil, Gideon Hartono-- pemilik jaringan apotek waralaba K-24 asal Yogyakarta ini sudah bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun, setelah jadi dokter, Gideon justru beralih profesi sebagai pengusaha. Ia bahkan sukses mengembangkan bisnis apotek waralaba-- yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI)-- sebagai apotek jaringan pertama di Indonesia yang buka 24 jam nonstop setiap hari!
Ternyata, pilihan untuk berbisnis dilatarbelakangi oleh kekecewaannya tidak bisa mengambil program dokter spesialis di almamaternya, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lantaran statusnya WNI keturunan China. Padahal, menjadi dokter spesialis adalah impian hampir semua dokter, termasuk dirinya. Menyadari karir dokternya tidak mungkin berkembang lebih tinggi dari dokter umum, pria kelahiran Yogyakarta 10 Oktober 1963 pun mulai menggeluti bisnis, sambil tetap praktik sebagai dokter di Puskesmas Gondokusuman II, kota Yogyakarta.
"Di era tahun 80-an, bukan perkara mudah bagi seorang WNI keturunan China seperti saya ini, bisa kuliah di Fakultas Kedokteran sebuah perguruan tinggi negeri (PTN), apalagi mengambil program dokter spesialis. Jika tidak, itu artinya karir saya mentok, hanya sebagai dokter umum," kata alumnus FK UGM dalam percakapan dengan Suara Karya di kantor perwakilan Apotek K-24 di Jakarta, Jumat (23/6).
Tak ingin berlama-lama meratapi sikap diskriminatif semacam itu, Gideon pun akhirnya memilih bisnis sebagai ladang hidupnya, sambil tetap menjalankan cita-citanya sebagai seorang dokter. Bisnis yang dikembangkan tak jauh-jauh dari hobi yang digelutinya sejak remaja, yaitu usaha fotografi.
Berbekal tabungan dari hasil menang lomba-lomba foto, pria kelahiran Yogyakarta 10 Oktober 1963 itu pun membuka usaha fotografi bernama Agatha Foto. "Sore hari sepulang dari praktik di Puskesmas, saya langsung ke Agatha Foto yang kesehariannya dipegang adik saya, Tulus Benyamin. Waktu itu saya benar-benar tidak mengenal kata capek bekerja dari pagi hingga malam hari," kata Gideon mengenang masa lalunya.
Usaha yang dilakukan dengan kesungguhan hati memang selalu berbuah manis. Usaha yang dirintisnya dari sebuah garasi itu, kini tidak saja melayani fotografi tetapi juga video shooting untuk perkawinan dan rumah produksi (production house). Ia bahkan mendirikan Gardu AD--perusahaan iklan yang banyak memproduksi iklan untuk televisi.
"Saya tidak lagi pegang Agatha Video. Pengelolaannya sudah saya serahkan ke adik saya Tulus Benyamin," ujar Gideon yang sedang cuti dari PNS 3 tahun.
Ditanyakan kenapa tidak ambil peluang kuliah spesialis di perguruan tinggi lain di luar Yogyakarta, Gideon menuturkan, waktu itu ia tidak punya pilihan. Karena keterbatasan ekonomi keluarga yang membuat dirinya tidak mungkin mengambil dokter spesialis, di luar tanah kelahirannya Yogyakarta.
"Saya ini lahir dari keluarga sederhana. Orangtua saya hanyalah pembuat kue moci, yang bila musim hujan, dagangannya sering tak terjual. Jadi, begitu tahu saya tidak bisa masuk program dokter spesialis di UGM, hanya karena saya ke-turunan China, saya bersikap pasrah saja. Sementara kuliah di luar kota Yogya tidak mungkin, karena ekonomi keluarga sangat terbatas," kata anak ke-lima dari tujuh bersaudara dari pasangan Hadi Purnomo dan Linawati itu.
Kendati pernah menderita akibat praktek diskriminatif, Gideon tampaknya tidak dendam. Dalam menjalankan bisnisnya, ia berusaha keras untuk pembauran. Hal itu terlihat dari filosofi logo apotek K-24 yang dibuat unik dengan kombinasi warna hijau, merah, kuning dan putih.
"Itu merupakan gambaran kondisi riil bangsa Indonesia yang multiras, agama, bahasa, dan lain-lain. Warna hijau yang banyak mendominasi melambangkan Islam. Merah melambangkan Kristen. Kuning mewakili agama lain yang minoritas. Ketiga warna itu bila digabungkan ternyata menghasilkan komposisi yang indah. Itulah yang ingin saya praktikkan dalam bisnis apotek," ungkapnya bersemangat.
Siapa pun terwaralaba K-24 harus menyetujui filosofi keragaman dan antidiskriminasi dari Gideon ini. "Kalau ada terwaralaba Katolik bilang pekerjanya harus seagama dengannya, wah, enggak itu. Saya enggak butuh duitnya, kok," tegasnya.
Maka, toleransi beragama di kalangan K-24 begitu tinggi. Ada salah satu terwaralaba muslim yang memilih apoteker Kristen dan beretnis China. Padahal, ketika K-24 mengajukan empat calon, ada dua yang Islam. "Prinsip saya jangan diskriminasi. Jadi, kita saling belajar dan jangan ada prasangka," ucap Gideon kalem.
Pria yang pernah mencalonkan diri sebagai bakal calon (balon) Wakil Walikota Yogyakarta itu menuturkan, apotek K-24 lahir dari kesulitannya mencari obat di malam hari dan di hari libur. Kalaupun obatnya ada, harganya pasti jauh lebih mahal dibanding biasanya.
"Kondisi itu jelas merugikan konsumen. Karena sangat butuh obat itu, maka konsumen akan membayar harga obat berapapun yang diminta apotik. Ini bisnis yang tidak adil," kata Gideon.
Buka Nonstop

Belajar dari pengalaman itu, istri dari Drg Inge Santoso Sp Ort itupun mendirikan Apotek K-24 di Yogyakarta. K-24 merupakan singkatan dari komplet 24 jam. Apotek tersebut buka 24 jam dengan tiga shift, yaitu pukul 07.30-15.30, pukul 15.00-22.00, dan pukul 21.30-07.30
Gideon mengaku tak sempat mengadakan riset pasar lebih dulu. Dia cuma mengandalkan naluri bisnisnya, bahwa warga Kota Yogya masih memerlukan apotek yang melayani mereka 24 jam nonstop. Meski demikian, gerai pertama apotek K-24, yang cuma mengandalkan naluri itu, memaksa Gideon merogoh simpanannya senilai Rp 400 juta.
Tiga bulan pertama, sambutan masyarakat biasa-biasa saja. Memasuki tiga bulan kedua, naluri bisnis Gideon terbukti hebat. Pengunjung apotek yang sejak dibuka tak pernah tutup sampai sekarang itu -- tak peduli Lebaran, Natal, Tahun Baru dan hari-hari besar nasional -- terus bertambah dari hari ke hari. Keberhasilan apotek pertama yang berdiri apik di Jl Magelang, Yogya itu memacu Gideon untuk membuka gerai berikutnya di tempat lain.
Pada 24 Maret 2003 gerai kedua K-24 berdiri di Jl Gejayan. Lalu, pada 24 Agustus 2003 gerai yang ketiga di Jl Kaliurang dibuka. Jadi, ketiganya masih di Yogya. Pada 24 Februari 2005 gerai K-24 memasuki Kota Semarang, Jawa Tengah. Ayah dua anak ini memang menyukai angka 24. Seain untuk nama jaringan apoteknya, pembukaan setiap gerai dilakukan setiap tanggal 24.
Beberapa waktu lalu, Gideon mendapat penghargaan dari MURI karena K-24 menjadi jaringan apotek pertama yang sejak dibuka hingga sekarang tidak pernah tutup. Harga obatnya pun tidak berubah, baik siang maupun tengah malam. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, mulai pukul 23.00 orang cuma bisa membeli obat di K-24 dari luar, lewat lubang pintu khusus.
Kini, apotek yang menyerap 90-an tenaga kerja ini menyediakan 5 ribu item obat, rata-rata transaksi 350-500 kali tiap bulan, dengan omset Rp 250-300 juta per gerai.
Gideon mengaku hanya mau membeli obat dari distributor resmi atau obat yang ada fakturnya. "Sebenarnya saya banyak mendapat tawaran obat ilegal yang harganya sangat murah, tapi saya tidak mau mengambilnya karena asalnya tidak jelas.
Ia mengaku mengambil margin 17 persen-25 persen dari obat yang dijajakannya, meski dari distributor ada peluang mendapatkan laba 20 persen-40 persen," ujarnya.
Gideon berniat memperluas jaringan apotek K-24 hingga menjangkau semua kota di Jawa lewat sistem waralaba. Ada beberapa yang sudah melamar, tapi yang benar-benar siap buka tahun ini baru dua, satu di Yogya, satunya lagi di Surabaya. Untuk memperoleh waralaba, investor harus menyediakan dana Rp 300-600 juta. Itu bagi yang pemula.
"Bagi investor yang sudah memiliki bisnis apotek tapi kurang berkembang dan ingin bergabung dengan jaringan K-24, tentu investasinya lebih kecil," tutur Gideon seraya menyebutkan target tahun depan K-24 bakal menambah gerainya menjadi 40 biji. Hingga 2010 nanti, Apotek K-24 menargetkan bisa tumbuh 500 gerai di seluruh Indonesia via sistem waralaba.
Gideon mengakui, membuka usaha apotek tidaklah sulit. Tinggal kerja sama dengan apoteker. "Tapi, yang lebih penting bagaimana membuat apotek kita mempunyai kekuatan bersaing," cetus Gideon.
Dia mencontohkan, dengan modal Rp 150 juta mungkin orang bisa membuka apotek sendiri. Tapi, sebagian besar atau sekitar Rp 100 juta dari dana itu akan habis untuk sewa tempat, renovasi, dan perlengkapan lainnya. Yang tersisa untuk stok barang dagangan hanya Rp 50 juta. "Dengan dana segitu, kalau buka apotek sendirian dapat apa?" ujar Gideon.(Tri Wahyuni)

6 Rekor MURI Terpecahkan Sekaligus

23.26 By k24 laswi bandung

31/12/2007 10:08:56 YOGYA (KR) - Ribuan warga lanjut usia (Lansia) Kota Yogya bersama Hi-Lab Diagnostic Center berhasil mencatatkan 6 rekor sekaligus pada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kegiatan Gelar Lansia 2007 di Stadion Kridosono Minggu (30/12) Pencapaian rekor tersebut di luar dugaan, karena sebelumnya hanya 5 rekor yang direncanakan akan dicatatkan ke MURI. Piagam penghargaan MURI diserahkan langsung oleh Manajer MURI, Paulus Pangka SH. Dari keenam penghargaan MURI tersebut dua diantaranya diterima oleh Walikota Yogyakarta Herry Zudianto atas nama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, masing-masing rekor senam massal lansia wanita terbanyak yang diikuti 3.135 orang dan pengukuran tekanan darah terbanyak dalam waktu 40 menit yang diikuti 3.297 orang. Sedangkan empat penghargaan MURI lainnya diterima oleh dr Gideon Hartono atas nama Apotek K-24 dan Hi-Lab Diagnostic Center. Keempat penghargaan itu masing-masing untuk rekor pemeriksaan darah rutin terbanyak yang diikuti 3.514 orang, pemeriksaan kadar gula darah terbanyak diikuti 3.514 orang, pemeriksaan kadar asam urat dalam darah terbanyak yang diikuti 3.514 orang dan rekor untuk Hi-Lab sebagai laboratorium klinik pertama di Indonesia yang hasilnya dapat diakses melalui SMS dan internet. "Keenam rekor yang dicapai tersebut, masing-masing tercatat sebagai rekor ke-2954, 2955, 2956, 2957, 2958 dan 2959 di MURI. Untuk pemeriksaan tekanan darah terbanyak merupakan rekor baru yang mengalahkan rekor sebelumnya di Jawa Barat yang diikuti dua ribuan orang dalam waktu 60 menit," terang Paulus Pangka kepada wartawan disela acara. (R-2)-f Direktur PT Hi-Lab International, dr Gideon Hartono mengungkapkan, sebagai kelanjutan dari pencatatan rekor MURI tersebut pihaknya akan memberikan diskon sebesar 30 persen bagi masyarakat untuk memanfaatkan jasa dan fasilitas di Hi-Lab. "Diskon diberikan kepada 5.000 orang pendaftar pertama sebagai anggota. Ini dalam rangka menyambut grand opening Hi-Lab tanggal 7 Januari mendatang," ujar dr Gideon